Jadilah Sahabat Bumi

Akhir-akhir ini, masyarakat di dunia dihebohkan dengan masalah yang dihadapi bumi ini. Mereka menganggap masalah itu sangat mempunyai dampak yang sangat besar bagi penduduk di bumi ini. Global Warming, itulah yang sering disebut-sebut oleh orang-orang. Global Warming atau dalam bahasa Indonesia yaitu pemanasan global.
Pemanasan global yang disebabkan oleh adanya efek rumah kaca, merupakan fenomena gelombang pendek radiasi matahari yang menembus atmosfer, dan setelah diserap oleh bumi dan tumbuhan, dipancarkan kembali berupa gelombang panjang. Sebagian gelombang panjang itu diteruskan oleh gas rumah kaca dan sebagian lagi dipantulkan kembali oleh lapisan gas rumah kaca di atmosfer ke permukaan bumi.
Di atmosfer bumi terdapat 6 jenis gas rumah kaca, yaitu karbondioksida (CO2), nitrogenoksida (N2O), metana (CH4), sulfurheksafluorida (SF6), perfluorokarbon (PFC) dan hidrofluorokarbon (HFC). Gas-gas ini dapat menyerap radiasi gelombang panjang di atmosfer, terutama gas metana, yang memiliki daya serap sangat tinggi.
Berdasarkan data emisi rumah kaca dari Kementrian Lingkungan Hidup tahun 1977, terungkap bahwa sektor pertanian dan peternakan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap meningkatnya emisi gas rumah kaca, terutama gas CH4, yang dihasilkan dari budidaya padi di sawah. Dibandingkan sumber-sumber lainnya, padi sawah secara keseluruhan merupakan sumber gas CH4, yaitu sebesar 21,9% dengan laju penambahan 1% - 2% per tahun. Kondisi anaerob di dalam tanah memungkinkan bakteri anaerob mengurai bahan organik dan menghasilkan CO2, yang bila bereaksi dengan H2, akan membentuk CH4.
Pada tahun 2002, luas sawah di Indonesia tercatat sekitar 10 juta hektar. Luas yang sedemikian besar akan memberikan sumbangan emisi gas CH4 yang cukup berarti ke atmosfer, sehingga akan meningkatkan pemanasan global dan perusakan lapisan ozon.
Selain itu,omah info juga mendapatkan info dari sumber terpercaya bahwa di Bandung, kota yang beriklim sejuk, suhu rata-rata normal adalah 280C. namun pada 26-27 Oktober 2004, terjadi pelonjakan suhu yang tinggi hingga mencapai 33,6 – 33,80C yang merupakan suhu tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Di Bandung tidak banyak lagi pepohonan yang dapat menahan sinar matahari dan memberi kesejukan bagi warga kotanya. Pepohonan penghasil oksigen itu, sudah lama ditebang demi pembangunan gedung-gedung, perumahan dan jalan layang. Idealnya Bandung berpenduduk 2,5 juta jiwa memiliki 1,25 juta pohon yang mampu menyediakan 625.000 kilogram oksigen (dengan asumsi satu pohon menghasilkan 0,5 kilogram oksigen). Kini jumlah pohon di Bandung hanya tersisa sekitar 600.000 pohon.
Matahari sebagai sumber energi di bumi, memancarkan radiasi elektromagnetik dalam tiga bentuk, yaitu sinar ultra violet, sinar tampak, dan sinar infra merah. Sekitar 99% radiasi matahari itu mempunyai komposisi sinar ultra violet kira-kira 9%, sinar tampak 45%, dan sinar infra merah 46%. Dari radiasi yang dipancarkan oleh matahari itu, kira-kira 43% diserap oleh permukaan bumi, dan sisanya tidak sampai ke bumi karena terhalang oleh proses penyerapan, pemantulan dan pemancaran atmosfer. Bumi memiliki kemampuan menyerap radiasi matahari, yang menyebabkan memiliki suhu tetap rata-rata 150C.
Keseimbangan energi ini akan tetap terjaga kalau saja lingkungan tidak berubah. Keberadaan polutan berupa gas, antara lain CO2 dalam atmosfer bumi, yang dapat berasal dari gas buang kendaraan bermotor dan cerobong asap pabrik, mengganggu proses penyerapan dan pemantulan radiasi matahari. Polutan-polutan itu menyerap radiasi infra merah penghasil panas dari bumi, mencegahnya untuk dilepaskan kembali ke angkasa pada malam hari. Dengan meningkatnya polutan-polutan dalam atmosfer, lebih banyak kalor yang diserap, sehingga mengakibatkan suhu semakin meningkat. Nah, oleh karena itu kita harus peduli akan pemanasan global ini. Pemanasan global dapat diminimalisir mulai dari diri sendiri, keluarga atau teman kita, dan juga lingkungan serta masyarakat sekitar kita. Usaha untuk mengurangi peningkatan suhu itu antara lain adalah dengan penanaman pohon, dan mengurangi pembakaran bahan bakar fosil.
Saat ini, dalam skala yang masih kecil, pemanfaatn energi alternatife pengganti BBM sudah dimulai. Sebagai pengganti solar, digunakan biodiesel yang dibuat dari minyak nabati seperti jarak pagar, sawit, kelapa, kapuk, dan sejumlah tanaman lain yang mengandung asam lemak.
Untuk mensubstitusi bensin, dapat digunakan bioetanol dan gasohol yang terbuat dari bahan-bahan bergula, seperti singkong, tetes tebu, nira, sorgum, ganyong, ubi jalar, dan jagung. Berdasar penelitian, angka oktan etanol ketika menjadi BBM kendaraan bermotor, jauh lebih tinggi dibandingkan angka oktan Pertamax. Sebagai pengganti minyak tanah dan elpiji (LPG, Liquified Petroleum Gas) dapat digunakan biogas yang dihasilkan oleh sampah dan kotoran hewan.
Sejumlah hasil penelitian berbagai instansi, seperti IPB, LIPI, dan BPPT, membuktikan bahwa pemanfaatan sumber energy non-BBM, lebih hemat biayanya dan lebih ramah lingkungan daripada penggunaan BBM. Hasil uji coba menunjukkan bahwa penggunaan biodiesel dapat menurunkan emisi udara lebih dari 60%, yang meliputi parameter ammonia, klorin bebas, dan NO2.
Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3
“Jadilah Sahabat Bumi”
Artikel lainnya dapat anda dapatkan di www.mudaers.com
Buat kamu semua yang nggak mo ketinggalan berita, klik aja di sini.
Hare gene ketinggalan berita, cupu abis kali ye……
bumi memang semakin hari semakin rusak,, semua efeknya sudah bisa kita rasakan,
lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk tetap mennjaga bumi ini dari kehancuran
bukan fisik saja yang rusak,tapi moril juga.
kita harus tegas biar semua tidak fatal.
mulai dari diri sendiri…..
let’s go guys….